Kamis, 05 Desember 2013



KEADILAN DALAM KELUARGA
            Perkenalkan namaku Ahmad , aku berasal dari keluarga yang tergolong kurang mampu , setiap harinya aku hanya bergantung kepada gaji seorang buruh tani.
bapak adalah seorang buruh di desa terpencil , aku mempunyai kakak perempuan namanya Kak Dina ia masih kelas 3 SMA, Kakak selalu menyayangiku dan kakaklah yang sekarang menggantikan profesi ibuku, semenjak ibu pergi meninggal kan kami entah karena apa, meskipun bapak seorang buruh tani tetapi cara untuk mendidik anaknya sangat keras, bapak sangat murka jika salah satu seorang anaknya melakukan kesalahan, bapak sering berkata kepada kami “meskipun bapak seorang buruh tetapi kita masih punya harga diri”
            Singkat cerita pada pagi hari aku dan kakak pergi kesekolah, melewati jalan raya sambil bernyanyi suka ria kami menyusuri jalan seakan akan jalan hanya kami saja yang memiliki...
“Awass dek ..” kakak berteriak
Tiba tiba  bbbbbraaakk aku terserempet oleh pengendara sepeda yang tidak bertanggung jawab,
            Kakak langsung membopongku ketepi jalan , sambil menangis dia mengusap lukaku yang mungkin hanya lecet saja, betapa sayangnya kakak kepadaku dan menurutku ini bukan luka yang seberapa dan aku lanjutkan pergi kesekolah
            Esoknya aku melihat kakak sedang kebingungan , aku coba bertanya kepada kakak , ternyata kakak sangat membutuhkan uang untuk membayar tunggakan di sekolahnya, aku pun ikut resah , tiba tiba kakak pergi keluar tetapi tanpa kakak sadari aku mengikutinya dari belakang, ternyata kakak mengambil uang ayah dilaci.
            Pada saat pergi untuk menyicil tunggakan di sekolah, bapak datang dari sawah dan kebingungan melihat uang yang ada di laci berkurang, bapak langsung marah besar.

            Malamnya aku dan Kakak Dina di introgasi di ruang belakang, kakak Dina ketakutan , ia takut bapak tau jika yang mengambil adalah dia.
“siapa yang mengambil uang Bapak..??” kata bapak dengan suara tinggi
“saya pak,,” kataku dengan nada pelan
“dasar anak tak tau rasa balas budi kamu” katanya dengan melayang kan tangannya ke pipiku
“Dina sekarang kamu masuk kamar , bapak mau mengajarkan adikmu bagaimana rasa balas budi” imbuh Bapak
Kakak Dina menangis tersedu sambil masuk kamar
Plllaaassshhh suara merdu liddi yang suaranya saja membuat takut melayang di punggungku
“ampunn pakk , ahmad janji gak akan ngulangi”
“mana ada maling di percaya “ sambil melayangkan lidinya
“ampun pakk... periihhh” sambil nangis aku meminta rasa iba kepada bapakku
“ini pelajaran agar kamu tidak nyolong lagi” dengan suara kasar
Tak terasa sudah 4 jam aku di hakimi oleh bapak dan sekarang aku disuruh masuk kamar oleh bapak
Dengan cap cap merah begaris garis di punggung seakan menjadi saksi peradilan ayah aku masuk kamar dengan jalan terbata bata
Dengan badan sakit semua aku duduk di kasur dengan badan terkelungkup di paha,,
“Ceklekk” tiba tiba kakak Dina masuk ke kamarku dengan tangisannya yang tersedu sedu
“Mengapa kamu lakukan itu ..??”
Aku terdiam menunduk
“jawab ahmad, kenapa..??”
 Aku pun terdiam dan membisu
“kenapa ahmad..?” kata kakak
“Ahmad sayang sama kakak”
Tiba tiba suasana menjadi hening
Esok harinya disaat aku menyapu terdapat selembar surat yang kop suratnya adalah sekolah kakakku setelah aku baca ternyata tunggakan kakakku sangat besar sekali,
Satu bulan telah berlalu hidupku sekarang tak seperti dulu, yang biasanya berangkat dan pulang sekolah bersama kakak, sekarang tidak lagi, aku sering pulang malam dan sering di marahi oleh bapak, setiap kali aku di marahi oleh bapak kakak selalu menangis di kamarnya.
Esok harinya aku meletakkan  surat dan beberapa uang di meja belajar kakak, mungkin nominalnya tak seberapa tapi itu hasil jerih payahku

Isi suratnya :
Maaf selama ini ahmad membuat air mata kakak habis , ahmad sekarang sudah besar bukan anak kecil lagi.
Oh iya waktu itu ahmad membaca sepucuk surat dari sekolah kakak yang isinya tentang tunggakan kakak. Ahmad pulang malam bukan karena ahmad anak nakal kok tapi ahmad cari pekerja sampingan agar bisa meringankan beban kakak, jangan nangis ya kak.
Pada akhirnya kakak Dina memberikan surat ini kepada bapak dan bapak merasa bersalah karena telah menghukum ahmad.

Jadi kesimpulannya :
Kita harus adil dalam keluarga dan menaati peraturan yang dilakukan di dalam keluarga, disiplin dan keras itu baik tetapi kita harus punya rasa toleransi dalam keluarga
Dan satu hal, anak laki laki seharusnya tulang punggung keluarga

Created by : Maulana Rahmananda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar