KEADILAN DALAM KELUARGA
Perkenalkan namaku Ahmad , aku berasal dari keluarga yang
tergolong kurang mampu , setiap harinya aku hanya bergantung kepada gaji
seorang buruh tani.
bapak adalah
seorang buruh di desa terpencil , aku mempunyai kakak perempuan namanya Kak
Dina ia masih kelas 3 SMA, Kakak selalu menyayangiku dan kakaklah yang sekarang
menggantikan profesi ibuku, semenjak ibu pergi meninggal kan kami entah karena
apa, meskipun bapak seorang buruh tani tetapi cara untuk mendidik anaknya
sangat keras, bapak sangat murka jika salah satu seorang anaknya melakukan
kesalahan, bapak sering berkata kepada kami “meskipun bapak seorang buruh
tetapi kita masih punya harga diri”
Singkat cerita pada pagi hari aku
dan kakak pergi kesekolah, melewati jalan raya sambil bernyanyi suka ria kami
menyusuri jalan seakan akan jalan hanya kami saja yang memiliki...
“Awass dek
..” kakak berteriak
Tiba tiba bbbbbraaakk aku terserempet oleh pengendara
sepeda yang tidak bertanggung jawab,
Kakak langsung membopongku ketepi
jalan , sambil menangis dia mengusap lukaku yang mungkin hanya lecet saja,
betapa sayangnya kakak kepadaku dan menurutku ini bukan luka yang seberapa dan
aku lanjutkan pergi kesekolah
Esoknya aku melihat kakak sedang
kebingungan , aku coba bertanya kepada kakak , ternyata kakak sangat
membutuhkan uang untuk membayar tunggakan di sekolahnya, aku pun ikut resah ,
tiba tiba kakak pergi keluar tetapi tanpa kakak sadari aku mengikutinya dari
belakang, ternyata kakak mengambil uang ayah dilaci.
Pada saat pergi untuk menyicil
tunggakan di sekolah, bapak datang dari sawah dan kebingungan melihat uang yang
ada di laci berkurang, bapak langsung marah besar.
Malamnya aku dan Kakak Dina di
introgasi di ruang belakang, kakak Dina ketakutan , ia takut bapak tau jika
yang mengambil adalah dia.
“siapa yang
mengambil uang Bapak..??” kata bapak dengan suara tinggi
“saya pak,,”
kataku dengan nada pelan
“dasar anak
tak tau rasa balas budi kamu” katanya dengan melayang kan tangannya ke pipiku
“Dina
sekarang kamu masuk kamar , bapak mau mengajarkan adikmu bagaimana rasa balas
budi” imbuh Bapak
Kakak Dina
menangis tersedu sambil masuk kamar
Plllaaassshhh
suara merdu liddi yang suaranya saja membuat takut melayang di punggungku
“ampunn pakk
, ahmad janji gak akan ngulangi”
“mana ada
maling di percaya “ sambil melayangkan lidinya
“ampun
pakk... periihhh” sambil nangis aku meminta rasa iba kepada bapakku
“ini
pelajaran agar kamu tidak nyolong lagi” dengan suara kasar
Tak terasa
sudah 4 jam aku di hakimi oleh bapak dan sekarang aku disuruh masuk kamar oleh
bapak
Dengan cap
cap merah begaris garis di punggung seakan menjadi saksi peradilan ayah aku
masuk kamar dengan jalan terbata bata
Dengan badan
sakit semua aku duduk di kasur dengan badan terkelungkup di paha,,
“Ceklekk”
tiba tiba kakak Dina masuk ke kamarku dengan tangisannya yang tersedu sedu
“Mengapa
kamu lakukan itu ..??”
Aku terdiam
menunduk
“jawab
ahmad, kenapa..??”
Aku pun terdiam dan membisu
“kenapa
ahmad..?” kata kakak
“Ahmad
sayang sama kakak”
Tiba tiba
suasana menjadi hening
Esok harinya
disaat aku menyapu terdapat selembar surat yang kop suratnya adalah sekolah
kakakku setelah aku baca ternyata tunggakan kakakku sangat besar sekali,
Satu bulan
telah berlalu hidupku sekarang tak seperti dulu, yang biasanya berangkat dan
pulang sekolah bersama kakak, sekarang tidak lagi, aku sering pulang malam dan
sering di marahi oleh bapak, setiap kali aku di marahi oleh bapak kakak selalu
menangis di kamarnya.
Esok harinya
aku meletakkan surat dan beberapa uang
di meja belajar kakak, mungkin nominalnya tak seberapa tapi itu hasil jerih
payahku
Isi suratnya
:
Maaf selama ini ahmad membuat air mata kakak habis , ahmad
sekarang sudah besar bukan anak kecil lagi.
Oh iya waktu
itu ahmad membaca sepucuk surat dari sekolah kakak yang isinya tentang
tunggakan kakak. Ahmad pulang malam bukan karena ahmad anak nakal kok tapi
ahmad cari pekerja sampingan agar bisa meringankan beban kakak, jangan nangis
ya kak.
Pada
akhirnya kakak Dina memberikan surat ini kepada bapak dan bapak merasa bersalah
karena telah menghukum ahmad.
Jadi
kesimpulannya :
Kita harus
adil dalam keluarga dan menaati peraturan yang dilakukan di dalam keluarga,
disiplin dan keras itu baik tetapi kita harus punya rasa toleransi dalam
keluarga
Dan satu
hal, anak laki laki seharusnya tulang punggung keluarga
Created by :
Maulana Rahmananda